The Crazy One : Are You Brave Enough to be Crazy? | Skystar Ventures | Incubator Coworking Space Jakarta

The Crazy One : Are You Brave Enough to be Crazy?

07 Dec The Crazy One : Are You Brave Enough to be Crazy?

Share on LinkedIn0Share on Facebook7Tweet about this on TwitterShare on Google+0

Sukses menggarap dunia seni dan film lantas tidak membuat Harjono Halim berpuas diri. Ia selalu percaya bahwa setiap manusia memiliki siklus untuk memulai dari titik nol hingga mencapai puncak kesuksesan, kemudian kembali untuk memulai di titik nol. Hal ini pula yang mendasarinya untuk keluar dari zona nyaman dan memulai mimpi besarnya melalui The Crazy One.

Lulus sebagai sarjana Management Informatika, pria yang akrab disapa Halim ini kemudian melanjutkan karirnya di Digital Studio yang kini telah berganti nama menjadi International Design School (IDS). “Maunya sih waktu itu kerja di perusahaan IT, tapi apa daya, IPK cuma 2,4. Hahaha”, guyon Halim.  Namun ia percaya setiap tempat memiliki keberuntuntungannya masing-masing. “Dua tahun bekerja sebagai Technical Suppport di Digital Studio, saya sebenarnya mendapat banyak kesempatan untuk belajar. Orang di sana baik banget, sampai-sampai saya bisa lancar belajar Printing, Adobe Flash, 3D media, hingga video dan perfileman”. Tuturnya.

Berkat kesempatannya itu pula, Halim kemudian memulai karirnya untuk terjun dan menekuni dunia videography di King Photo, sebuah studio foto ternama yang baru membuka unit untuk pembuatan video pernikahan. Halim mendapatkan kesempatan sebagai kepala bagian selama empat tahun. Begitu banyak projek dan pujian mengalir pada saat itu hingga Halim mencapai titik jenuhnya sendiri. Kemudian ia memutuskan untuk melepas King Photo pada 2011. Halim memberanikan diri untuk merangkai mimpi besarnya dengan membentuk How To production dan bergabung sebagai co-working tenant di Skystar Ventures.

“Jangan kira saya langsung bisa mendapatkan projek sebanyak ini setelah mendirikan How To Production. Saya sempat stress selama enam bulan dan bingung harus memulai dari mana”, tuturnya. Namun itu semua tidak menghalanginya untuk melankah maju. Melalui Skystar Ventures, Halim mengaku mendapatkan komunitas yang mendukung mimpi besarnya menjadi kenyataan. Hingga saat ini, How To Production berkembang menjadi The Crazy One dan siap menantang fresh talent untuk mengekspresikan ide-ide kreatif mereka.

Sebagaimana visi dan misinya, The Crazy One dibentuk sebagai creative agency yang fokus untuk mengembangkan passion dibidang seni dan kreatif. “The Crazy One ini adalah wadah bagi orang-orang kreatif untuk berkarya, keluarga bagi para seniman nusantara, serta tempat untuk gagal dan belajar melalui pengalaman mereka”, tambah Halim. The Crazy One saat ini terbuka untuk seluruh mahasiswa/i maupun fresh graduate yang serius untuk mennnumpahkan ide-ide kreatifnya melalui karya seni.

“Saya melihat banyak sekali potensi ide-ide cemerlang  mahasiswa saat ini. Sayangnya saat mereka masuk ke ranah magang, mereka jarang terlibat langsung dalam projek yang seharusnya dapat mengasah kreatifitas mereka”, tukas Halim. Hal inilah yang mendorongnya untuk menghubungkan kreatifitas mahasiswa UMN untuk menggarap projek bersama yang tidak hanya di bidang design. “Saya akan bawa mereka untuk ikut merasakan juga bagaimana serunya dunia EO, healthcare, corporation, media, dan masih banyak lagi”, tutupnya.

The Crazy One memiliki 10 prinsip unik yang menjadi dasar kerja mereka. Lingkungan kerja yang fleksibel dan nyamam tentu akan mendukung kreatifitas tim untuk berkarya out of the box. Saat ini The Crazy One membuka kesempatan untuk bergabung sebagai Graphic Designer dan Asisten Produksi. Keterangan lebih lanjut mengenai kriteria dan persayaratan untuk bergabung di The Crazy One, dapat menghubungi Abraham (abraham@umn.ac.id).

Share on LinkedIn0Share on Facebook7Tweet about this on TwitterShare on Google+0
No Comments

Post A Comment